Senin, 11 Desember 2017

RENANG GAYA DADA DAN GAYA PUNGGUNG

Renang Gaya Dada 

Renang gaya dada adalah renang yang dilakukan dengan posisi dada menghadap ke bawah. Kelebihan renang gaya ini adalah gerakannya lebih stabil dan memudahkan kepala keluar dari air kapan saja. Bagaimanakah teknik gerakan renang pada gaya ini?

1.Teknik Gerakan Kaki
Teknik gerakan kaki pada renang gaya dada dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a.Sikap badan telungkup, kedua tangan berpegangan pada pinggiran kolam.
b.Kepala berada di atas permukaan air, kedua kaki lurus ke belakang.
c.Kedua lutut ditarik ke samping, kedua kaki lurus ke belakang.
d.Kedua tumit lepas, kedua kaki dibuka ke samping.
e.Kedua kaki dirapatkan kembali seperti sikap semula.
f.Merapatkan kaki harus dilakukan dengan cepat. Gerakannya seperti gerakan mencambuk, pergelangan kaki tetap lemas, hingga badan meluncur.

2.Teknik Gerakan Tangan
Teknik gerakan tangan dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a.Sikap badan jongkok atau berdiri, hal ini tergantung pada kedalaman kolam.
b.Kedua tangan lurus ke depan selebar bahu, telapak tangan menghadap ke bawah serta jari-jari tangan rapat berada di atas permukaan air.
c.Kedua tangan menekan air ke samping bawah, kedua siku tetap lurus, jari-jari tangan rapat dan lakukan gerakan mendayung.
d.Pada waktu tangan berada di bawah bahu, dengan membuat sudut kira-kira 45°, kedua tangan ditarik hingga berada di bawah dagu. Kemudian diluruskan kembali ke depan, untuk meluncur.
e.Wajah menghadap ke bawah dan berada di antara kedua lengan.

3.Teknik Mengambil Napas
Mengambil napas dilakukan dengan gerakan sebagai berikut.

a.Pada waktu kedua tangan masuk ke dalam air, telapak tangan menghadap ke samping dengan jari-jari rapat.
b.Dagu diangkat ke atas serta pandangan ke depan untuk mengambil napas.
b.Waktu tangan akan membentuk sudut, kedua telapak tangan menghadap ke bawah.
d.Kemudian, kedua tangan diluruskan kembali ke depan, muka kembali menghadap ke bawah untuk mengeluarkan napas atau napas dikeluarkan di dalam air.

perenang yang andal. Berikut ini akan dijelaskan mengenai teknik lanjutan dari renang gaya punggung, gaya dada, dan gaya bebas.

Renang Gaya Punggung
Renang gaya punggung mulai dikenal pada tahun 1912. Orang yang berjasa dalam mengembangkan gaya tersebut adalah Adolph Hieper.

Salah satu kelebihan renang gaya ini adalah kemudahan perenang dalam bernapas. Karena posisi hidung dan mulut perenang menghadap ke atas maka perenang tidak perlu memalingkan muka ke kiri dan kanan saat mengambil dan mengeluarkan napas. Bagaimanakah teknik dan koordinasi gerakan pada gaya ini?

1.Teknik Gerakan Renang Gaya Punggung

aTeknik Gerakan Kaki


Teknik gerakan kaki pada renang gaya punggung, hampir menyerupai teknik gerakan kaki renang gaya bebas atau crawl. Pinggul, lutut, dan pergelangan kaki bergerak turun nailc. Perbedaannya hanya terletak pada gerakan kaki ketika digerakkan dari bawah ke atas. Jadi, pada gaya punggung seluruh kaki harus berada di bawah permukaan air. Begitu pula halnya ketika kaki digerakkan atau ditendangkan dari bawah ke atas, bagian lutut tidak ke luar dari permukaan air.


Pada waktu kaki melakukan tendangan dari bawah ke atas, lutut harus diluruskan. Oleh karena itu, pada akhir tendangan, seluruh permukaan kaki berada sejajar dengan pinggul, perut, dan dada.

Cara lain melakukan gerakan kaki pada gaya punggung, yakni lutut mula-mula dibengkokkan dan kemudian diluruskan kembali. Lutut diangkat jangan terlalu tinggi hingga ke luar permukaan air. Apabila hal ini terjadi, aliran air dari pinggul ke bawah yang melalui kaki akan terhambat. Di samping itu, pemukulan air tidak dapat dilakukan dengan penuh, sehingga kaki kurang berhasil untuk menekan air sepenuhnya.

Untuk mengatasi agar pengangkatan lutut tidak terlampau tinggi hendaknya kaki direntangkan dari pinggul. Dengan demikian, seluruh kaki akan betul-betul lurus. Pada waktu lutut digerakkan, kaki bagian bawah bergerak, seperti gerakkan cambuk ke atas, sedangkan saat lutut lurus, seluruh kaki harus sejajar dengan permukaan atas badan.

Beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam renang gaya punggung, terutama bagi perenang yang baru belajar, yaitu sebagai berikut.


1.Keadaan kepala terlampau jauh ke belakang (terlalu menengadah)


2.Sikap badan tidak lurus.


3.Pinggul dan paha terlalu terangkat di atas permukaan air.

4.Lutut terlalu dibengkokkan, sehingga keluar dari permukaan air.


5.Keadaan kaki terlalu kaku, sehingga persendian kurang dapat bekerja sebagaimana mestinya, terutama persendian pergelangan kaki.

b.Teknik Gerakan Tangan
Teknik gerakan tangan renang gaya punggung, yaitu sebagai berikut. 


1.Menekan dan meluncur (press-slide).


2.Memasukkan tangan ke dalam air (entry).


3.Tangan mengayuh (recovery)


4.Menangkap, menarik, dan mendorong (catch, pull, dan push).


5.Membebaskan (relax).

c.Teknik Pernapasan


Napas diambil melalui mulut dan dikeluarkan melalui hidung. Apabila seorang perenang mengambil napas melalui hidung, kemungkinan besar pernapasan, keseimbangan, dan irama renangnya akan terganggu. Terganggu karena percikan air akan masuk ke dalam hidung dan tenggorokan. Dengan demikian, kecepatan renangnya pun menjadi lambat.

Hambatan pernapasan pada gaya punggung adalah otot perut menjadi tegang pada waktu kaki ke atas. Ketegangan otot itu akan membatasi gerakan napas dari diafragma, sehingga napas agak terganggu. Gangguan ini dapat diatasi atau dihilangkan dengan jalan latihan.
2.Koordinasi Teknik Gerakan Kaki, Tangan, dan Pernapasan

Gerakan yang paling umum dilakukan, baik dalam gaya bebas maupun gaya punggung, adalah dengan irama six beats. Irama six beats adalah satu kali gerakan tangan, enam kali gerakan kaki. Dengan irama six beats, gerakan menjadi lebih praktis dan efisien.

Pada umumnya, cara melakukan gerakan renang gaya punggung harus berirama. Ketika tangan kanan dimasukkan ke dalam air maka kaki harus berada dalam keadaan lurus. Di saat bersamaan, tarlgan kiri telah menyelesaikan gerakannya dan berada lurus di samping paha. Demikian halnya saat tangan kiri mulai dimasukkan ke dalam air. Di samping itu, ketika kaki kanan berada dalam keadaan lurus, tangan kanan harus sudah berada lurus di samping paha.
Beberapa gerakan renang gaya punggung




Kamis, 06 April 2017

Tugas PJOK Semester 2

Cara membuat celengan dari botol mineral bekas

Bahan :

> Botol air mineral 1,5 liter atau yang 600 ml
> 2 buah Gunting
> Cutter / silet
> Lem tembak atau plester,lakban
> kain flanel atau kertas kado dll.

Cara Membuat :

• Potong botol air mineral menjadi dua dari bawah di ukur 15 cm yang satu sekitar 10 cm.
• Setelah di potong tinggal di jadikan satu saja dengan plester/lem tembak. sebelum di jadikan satu di bagian potongan yang berukuran 10 cm di buat sobekan, sekitar 3 cm panjangnya dan lebar sekitar 0,5 cm.

• Tahap menghias sesuai selera supaya lebih menarik untuk ditaruh di atas meja belajar.

Senin, 03 April 2017

TUGAS PJOK SEMESTER II


Biografi  Raden Ajeng Kartini

 Biografi

Asal Usul -Raden Ajeng Kartini lahir dalam keluarga bangsawan Jawa di Tanah Jawa saat masih menjadi bagian dari koloni Belanda, Hindia Belanda. Ayah Kartini, Raden Mas Sosroningrat, menjadi Kepala Kabupaten Jepara, dan ibunya adalah istri pertama Raden Mas ‘, poligami adalah praktik umum di kalangan bangsawan.


Ayah Kartini, RMAA Sosroningrat, pada awalnya kepala distrik Mayong. Ibunya MA Ngasirah, putri dari Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara, dan Nyai Haji Siti Aminah. Pada waktu itu, peraturan kolonial ditentukan bahwa Kepala Kabupaten harus menikahi seorang anggota bangsawan dan karena MA Ngasirah bukanlah bangsawan yang cukup tinggi.

Biografi R.A Kartini, Ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung dari Raja Madura. Setelah perkawinan kedua ini, ayah Kartini diangkat untuk Kepala Kabupaten Jepara, menggantikan ayahnya sendiri istri keduanya, RAA Tjitrowikromo.

Ibu Kita Kartini dilahirkan dalam keluarga dengan tradisi intelektual yang kuat. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun sementara Kakak Kartini, Sosrokartono adalah seorang ahli bahasa.

Keluarga Kartini mengizinkannya untuk menghadiri sekolah sampai dia berumur 12 tahun, di antara mata pelajaran lain, ia fasih berbahasa Belanda, suatu prestasi yang tidak biasa bagi wanita Jawa pada waktu itu.

Setelah berusia 12 tahun ia harus berdiam diri di rumah, aturan di kalangan bangsawan Jawa pada masa tersebut, tradisi untuk mempersiapkan para gadis-gadis di usia muda untuk pernikahan mereka. Gadis pingitan yang tidak diizinkan untuk meninggalkan rumah orangtua mereka sampai mereka menikah, di mana titik otoritas atas mereka dialihkan kepada suami mereka.

Ayah Kartini memberikan keringanan kepadanya selama pengasingan putrinya, memberikan hak istimewa seperti memberikan pelajaran menyulam dan kadang-kadang tampil di depan umum untuk acara khusus.

Selama pengasingan itu, Kartini terus mendidik dirinya sendiri. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, ia mendapatkan beberapa teman pena Belanda. Salah satu dari mereka, seorang gadis bernama Rosa Abendanon, menjadi temannya sangat dekat. Buku, surat kabar dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa, dan memupuk keinginan untuk memperbaiki kondisi perempuan pribumi, yang pada waktu itu memiliki status sosial yang sangat rendah.

Kartini membaca surat kabar Semarang De Locomotief, disunting oleh Pieter Brooshooft, serta leestrommel, sebuah majalah yang diedarkan oleh toko buku kepada para pelanggan. Dia juga membaca majalah budaya dan ilmiah serta majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie, yang ia mulai mengirim kontribusi yang diterbitkan. Dari surat-suratnya, jelas bahwa Kartini membaca segala sesuatu dengan banyak perhatian dan perhatian. Buku-buku yang telah dibacanya sebelum ia berusia 20 tahun dimasukkan oleh Max Havelaar dan Surat Cinta oleh Multatuli. Dia juga membaca De Stille Kracht (The Hidden Force) oleh Louis Couperus, karya-karya Frederik van Eeden, Augusta de Witt, penulis Romantis-feminis Mrs Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah novel anti-perang oleh Berta von Suttner, Waffen Nieder mati! (Lay Down Your Arms!). Semua berada di Belanda.

Keprihatinan Kartini tidak hanya dalam bidang emansipasi wanita, tetapi juga masalah-masalah masyarakatnya. Kartini melihat bahwa perjuangan bagi perempuan untuk memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum itu hanya bagian dari gerakan yang lebih luas.

Orangtua Kartini diatur pernikahannya dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Kepala Kabupaten Rembang, yang sudah memiliki tiga istri. Dia menikah pada tanggal 12 November 1903. Ini bertentangan dengan keinginan Kartini, tetapi dia setuju untuk menenangkan ayahnya yang sakit. Suaminya mengerti tujuan Kartini dan memungkinkannya untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks Kantor Kabupaten Rembang.

Kartini melahirkan seorang anak hasil pernikahannya dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Kepala Kabupaten Rembang pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian pada tanggal 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25. Dia dimakamkan di Desa Bulu, Rembang.

Terinspirasi oleh contoh Kartini, keluarga Van Deventer mendirikan Yayasan Kartini yang membangun sekolah untuk perempuan, ‘Sekolah Kartini’ di Semarang pada 1912, diikuti oleh sekolah-sekolah perempuan lain di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.

Peringatan Hari Kartini pada tahun 1953

Pada tahun 1964, Presiden Sukarno menyatakan tanggal kelahiran Kartini, 21 April, sebagai ‘Hari Kartini’ – Hari Libur Nasional Indonesia. Keputusan ini telah dikritik. Telah diusulkan bahwa Hari Kartini harus dirayakan dalam hubungannya dengan Hari ibu Indonesia, pada tanggal 22 Desember sehingga pilihan Kartini sebagai pahlawan nasional tidak akan menaungi wanita lain yang tidak seperti Kartini, mengangkat senjata untuk melawan penjajah.

Sebaliknya, orang-orang yang mengakui pentingnya Kartini berpendapat bahwa tidak hanya dia seorang feminis yang ditinggikan status perempuan di Indonesia, dia juga seorang tokoh nasionalis, dengan ide-ide baru yang berjuang atas nama orang-orang, termasuk di tingkat nasional perjuangan kemerdekaan.